Minggu, 18 Desember 2011

Kemurnian di dalam perkawinan - Part3


X. Apa resikonya jika alat kontrasepsi tetap digunakan?
1. Mengakibatkan adanya resiko ketidaksetiaan dan melemahkan ikatan kasih antara suami istri
Mungkin ada banyak orang yang tidak menyadari, bahwa penggunaan alat kontrasepsi sedikit banyak melemahkan kasih suami istri. Sebab penggunaan alat kontrasepsi mengakibatkan suami istri tidak lagi memberikan diri yang total satu sama lain, dan hal ini akan mempengaruhi sikap keduanya di sisi kehidupan yang lain. Selain itu jika alat kontrasepsi digunakan semata untuk memenuhi dorongan seksual, maka resikonya adalah keduanya baik suami dan istri tidak terbiasa mengendalikan diri secara seksual. Jika suami dominan dalam hal ini, maka istri dapat merasa dipergunakan sebagai “alat/ obyek” daripada sebagai manusia. Jika ini terus berlanjut maka lama kelamaan hubungan antara suami istri dapat menjadi tawar.

2. Membuat nilai-nilai moral menurun dalam masyarakat, terutama pada generasi muda
Selain membahayakan keutuhan keluarga, penggunaan alat kontrasepsi juga dapat berakitab buruk bagi moralitas masyarakat, terutama kaum muda. Paus Paulus VI mengajarkan tentang hal ini demikian,
17. “Orang- orang yang bertanggungjawab dapat menjadi benar- benar meyakini kebenaran dari ajaran yang dijabarkan Gereja dalam hal ini, jika mereka merenungkan akibat- akibat dari metoda- metoda dan rencana- rencana pengontrolan kelahiran secara artifisial. Pertama- tama, biarlah mereka mempertimbangkan bagaimana tindakan- tindakan ini dapat membuka lebar- lebar jalan kepada ketidaksetiaan dalam perkawinan dan pemerosotan standar moral secara umum…. secara khusus generasi muda, yang sangat terekspos pada godaan ini… Efek lain yang mengkhawatirkan adalah seorang laki- laki yang tumbuh terbiasa dengan penggunaan metoda kontraseptif dapat melupakan penghormatan yang selayaknya diberikan kepada seorang wanita, dan, tidak menghiraukan keseimbangan fisik dan emosinya, pria itu merendahkannya menjadi sebuah alat semata untuk pemuasan hasratnya sendiri, tidak lagi meanggapnya sebagai pasangan yang seharusnya ia lingkupi dengan perhatian dan kasih sayang (Humanae Vitae 17).
Betapa ‘nubuat’ ini telah terpenuhi di jaman sekarang ini, dengan kenyataan meningkatnya jumlah perceraian, hampir di seluruh dunia, termasuk di Indonesia. Menurut penelitian di link ini, silakan klik, di tahun 2000, tingkat perceraian di Indonesia mencapai 12 % (masih lebih rendah jika dibandingkan dengan di  Amerika yang mencapai sekitar 50 %); dan 70% alasan gugatan cerai adalah perselingkuhan/ ketidaksetiaan dalam perkawinan. Ditambah lagi situasi sekarang ini di mana banyak terjadi kehamilan di luar nikah, yang disebabkan karena hubungan seksual sebelum perkawinan.

3. Memberikan efek yang buruk terhadap kesehatan
Selanjutnya, alat kontrasepsi tertentu, seperti pil KB, spiral ataupun sterilisasi dapat mengakibatkan resiko penyakit serius pada istri. Silakan anda klik di link ini untuk membacanya, http://onemoresoul.com/contraception/risks-consequences/what-a-woman-should-know-about-birth-control.html. Contohnya, seperti disebutkan dalam link tersebut:
Pil KB meningkatkan resiko kanker payudara sebesar 40 %, jika pil dikonsumsi sebelum wanita melahirkan anak yang pertama. Resiko akan naik sebesar 70 % jika pil dikonsumsi empat tahun atau lebih sebelum anak pertamanya lahir. Efek negatif lainnya adalah tekanan darah tinggi, penggumpalan darah, stroke, serangan jantung, depresi, bertambahnya berat badan, dan migraine. Bagi pengidap sakit gula, maka kadar gula dalam darah dapat naik. Seorang yang stop minum pil KB tidak segera memperoleh kesuburannya, dapat menunggu setahun atau lebih. Pil KB meningkatkan resiko kanker payudara, kanker hati dan kanker leher rahim…..”
Spiral/ IUD dapat mengakibatkan uterine perforation (pelubangan saluran kencing), hysterectomy (pembuangan rahim), infeksi pelvic atau tubo-ovarian abscess. Dan jika terjadi kehamilan di kemudian hari, maka terdapat resiko bayi terbentuk bukan di rahim tetapi di tuba fallopi.
Sterilisasi permanen pada wanita dapat mengakibatkan perdarahan, turunnya libido, meningkatnya resiko hysterectomy, dan penyesalan telah melaksanakan sterilisasi. Pada pria, sterilisasi/ vasektomi dapat meningkatkan antibodi anti-sperma, artinya tubuh mereka dapat mengenali sperma sebagai “musuh”, sehingga ada resiko penyakit auto immune, dan kanker prostat…..
Agaknya prinsip yang diajarkan oleh St. Agustinus dapat kita ingat, yaitu: “Jika kamu berontak melawan alam maka alam akan berontak melawan kamu.”

XI. Kesimpulan
Kemurnian merupakan penggabungan seksualitas di dalam kepribadian seseorang, dan ini melibatkan pengendalian diri ((lih. KGK 2395)). Dalam perkawinan, kemurnian hubungan suami istri dinyatakan dengan menjaga kesatuan esensial antara persatuan suami istri (union) dan kemungkinan penciptaan (procreation), sebab hanya dengan cara demikian hubungan suami istri dapat sampai pada kepenuhannya dalam hal kasih sejati yang timbal balik, dan orientasinya kepada panggilan mulia sebagai orang tua[2] yang menyalurkan kehidupan kepada anak- anak mereka dan mendidik anak- anak mereka. Hanya dengan melaksanakan hubungan kasih dalam kemurnian inilah, suami istri dapat menemukan arti panggilan hidup mereka dan menemukan kebahagiaan mereka yang sejati di dalam Tuhan.
Pada akhirnya, makna akhir dari penciptaan kita sebagai laki- laki dan perempuan ditemukan di dalam panggilan kita untuk menyatakan dalam di dalam tubuh kita, persekutuan kita dengan Allah Trinitas di dalam Kristus dan melalui Kristus. Perkawinan bukan merupakan tujuan akhir persekutuan manusia, tetapi hanya persiapan untuk perkawinan/ persatuan ilahi kita dengan Allah di akhir nanti. Hubungan kasih suami istri di dunia ini hanya merupakan gambaran samar- samar akan persekutuan antara kita manusia dengan Allah, yang akan mencapai kesempurnaannya di surga kelak.
jawaban ini dapat membantu.


sumber: http://www.katolisitas.org

Tidak ada komentar:

Posting Komentar